Kekurangan DHA dan EPA pada Anak Indonesia: Dampak pada Otak

Kekurangan DHA dan EPA pada Anak Indonesia: Dampak pada Otak

, JAKARTA –Penelitian terbaru yang diterbitkan di British Journal of Nutrition oleh Universitas Cambridge mengungkapkan fakta yang mengejutkan.

Sekitar 80 persen anak di Indonesia masih mengalami kekurangan dua jenis asam lemak penting, yaitu Docosahexaenoic Acid (DHA) dan Eicosapentaenoic Acid (EPA).

Asam lemak penting merupakan jenis asam yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh sendiri, namun diperlukan untuk menjalankan berbagai fungsi vital. Oleh karena itu, kita perlu memperolehnya melalui makanan atau suplemen.

Temuan ini diperoleh dari sebuah penelitian berjudul Intake of Essential Fatty Acids in Indonesian Children, Secondary Analysis of Data from a Nationally Representative Survey, yang meneliti kebiasaan mengonsumsi asam lemak penting pada anak-anak berusia 4 hingga 12 tahun di Indonesia.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar di antara mereka belum mencapai asupan DHA dan EPA sesuai dengan standar yang disarankan oleh FAO dan WHO.

Apa yang Dimaksud dengan DHA dan EPA?

Ahli anak, dr. Ria Yoanita, Sp.A mengatakan bahwa DHA (Docosahexaenoic Acid) dan EPA (Eicosapentaenoic Acid) merupakan dua jenis asam lemak omega-3 yang penting untuk pertumbuhan otak anak, tetapi tidak dapat dihasilkan oleh tubuh manusia sendiri.

Otak merupakan organ utama dalam sistem saraf manusia yang mengontrol sebagian besar fungsi tubuh—mulai dari berpikir, bergerak, merasakan, hingga bernapas.

Ini disampaikan dalam acara Minggu Seni Anak Cerdas Indonesia.

"DHA berperan dalam sel-sel otak, struktur otak, dan sistem sarafnya, sedangkan EPA berkaitan dengan cara kerja otak. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kekurangan keduanya dapat memengaruhi fungsi otak seperti kemampuan fokus, penglihatan, daya ingat, dan lainnya," ujar dr. Ria di Jakarta Selatan, Minggu (27/7/2025).

Dengan kata lain, DHA dan EPA memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan saraf dan otak, termasuk dalam hal kemampuan fokus, penglihatan, serta daya ingatan.

Tanpa asupan yang memadai, anak-anak berpotensi mengalami hambatan dalam proses belajar serta perkembangan kognitifnya.

Kurang Mengonsumsi Ikan Laut, Suplemen Bisa Jadi Alternatif

Meskipun sumber alami DHA dan EPA dapat ditemukan dalam ikan laut seperti sarden, tuna, makarel, atau ikan malagasi, kenyataannya konsumsi ikan laut oleh anak-anak Indonesia masih tergolong rendah.

Banyak faktor berperan, mulai dari ketersediaan hingga kebiasaan dalam mengonsumsi makanan.

"DHA-EPA dapat diperoleh dari makanan berupa ikan laut seperti sarden, tuna, makarel, dan mackerel. Namun sayangnya, menurut studi yang ada, anak-anak Indonesia jarang mengonsumsi ikan laut. Sulit atau pengalaman pribadi saya sendiri tidak terlalu menyukai ikan," ujar dr. Ria.

Pada situasi seperti ini, orang tua sebaiknya mempertimbangkan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan DHA dan EPA anak.

Contohnya dari suplemen yang berbahan dasar minyak ikan atau makanan yang telah ditambahkan omega-3.

Tantangan lain muncul ketika anak memiliki kebiasaan makan khusus, seperti tidak menyukai makanan yang berbau amis atau memiliki tekstur tertentu.

Namun, dr. Ria menekankan bahwa kebutuhan nutrisi anak tetap dapat terpenuhi melalui kreativitas dalam memasak dan menyajikan makanan.

"Umumnya dipengaruhi oleh pengalaman yang diberikan orang tua, tetapi bukan berarti jika dia sudah memiliki preferensi tertentu, maka kebutuhan akan DHA-EPA-nya tidak bisa terpenuhi. Masih banyak cara kita memberikan makanan dengan variasi, serta menarik dan menonjol," katanya.

Sangat penting bagi para orang tua untuk tidak menyerah ketika anak menolak mengonsumsi makanan bergizi.

Pendidikan dini dan penyajian yang menarik dapat membantu anak lebih terbuka terhadap konsumsi makanan bernutrisi tinggi.

Selanjutnya dia juga mengingatkan bahwa masa emas perkembangan otak anak hanya terjadi sekali dalam seumur hidup.

Masa ini menjadi titik penting yang memengaruhi kemampuan kognitif anak di masa depan, sehingga sangat perlu memastikan asupan gizi tercukupi secara maksimal sejak awal.

Dengan memenuhi kebutuhan DHA dan EPA, diharapkan anak-anak Indonesia mampu berkembang dengan kemampuan berpikir yang lebih baik, fokus yang maksimal, serta kesehatan sistem saraf dan penglihatan yang lebih terjaga. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Tembak Polisi di Makassar, Begal Aldy Monyet Diduga Korban Minta Restoratif Justice

INTER MILAN: Tiga Kandidat Pengganti Hakan Calhanoglu

Perbedaan Dot Bulat dan Gepeng serta Kelebihan Kekurangannya