Kekhawatiran Ibunda Misri Terkait Kematian Brigadir Nurhadi: Surat Polisi Dikirim Melalui Jasa Pengiriman

Featured Image

Sosok Misri Puspita Sari yang Disorot dalam Kasus Kematian Brigadir Nurhadi

Misri Puspita Sari, seorang perempuan asal Jambi, kini menjadi tersangka dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi di Gili Trawangan, Lombok Utara. Ia bersama dua perwira polisi dari Polda NTB, yaitu Kompol I Made Yogi Purusa Utama dan Ipda Haris Chandra, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, keluarga Misri mengaku tidak percaya bahwa anak mereka terlibat dalam tindakan pembunuhan tersebut.

Perjalanan Hidup Misri Sejak Kecil

Misri adalah anak pertama dari enam bersaudara. Selama masa TK hingga SMA, ia menempuh pendidikan di Kota Jambi. Keluarganya sempat tinggal di Kawasan Kelurahan Murni, Kecamatan Danau Sipin, sebelum akhirnya pindah ke Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi. Di sana, ia melanjutkan pendidikan SMA di SMAN 11 Muaro Jambi. Selama masa sekolah, Misri dikenal sebagai siswa berprestasi. Ia mewakili sekolah bahkan Provinsi dalam berbagai ajang nasional, seperti Kawah Kepemimpinan Pelajar 2018 dan Bujang Gadis Kota Jambi 2019. Selain itu, ia juga pernah menjadi Duta OJK.

Karena prestasinya, Misri mendapat tawaran beasiswa penuh. Namun, ia menolak karena lebih memprioritaskan kebutuhan adik-adiknya. Setelah lulus SMA, ia bekerja di kantor OJK Jambi. Namun, setelah ayahnya meninggal, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja keras.

Hubungan Keluarga dengan Misri Saat Merantau

Selama di Jakarta, komunikasi antara Misri dan keluarganya tetap lancar. Mereka biasa berkomunikasi setiap hari, baik sebelum maupun setelah Misri bekerja. Misri selalu meminta restu dan masukan dari ibunya sebelum menerima pekerjaan. Bahkan, ia sering curhat tentang pekerjaan yang diterimanya.

Pada suatu kesempatan, Misri memberitahu ibunya bahwa ia akan menerima tawaran kerja di Lombok. Alasannya, saat itu dia sedang berada di Bali dan uang yang didapat cukup untuk biaya sekolah adik-adiknya. Meski begitu, ia tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan pulang ke Jambi tiga bulan sekali, meski hanya berada selama satu hingga dua hari.

Bagaimana Keluarga Mengetahui Kasus yang Menimpa Misri?

Keluarga pertama kali mengetahui kasus yang menjerat Misri melalui surat pemanggilan dari Polda NTB yang dikirim via jasa pengiriman barang. Surat tersebut diterima oleh tante Misri, Nina, pada 12 Juni 2025. Setelah itu, ibu Misri menerima telepon dari anaknya yang bercerita tentang situasi yang dialaminya.

Menurut cerita Misri, setelah kejadian, ia berada di Kalimantan. Dalam panggilan tersebut, ia menangis karena status tersangkanya. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya membantu korban, bukan melakukan pembunuhan. Ibu Misri memberi nasihat agar anaknya tidak takut dan segera kembali ke Lombok untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Setelah itu, komunikasi ibu Misri beralih ke pengacara karena ponsel anaknya telah disita.

Tanggapan Keluarga terhadap Isu yang Beredar

Ibu Misri menyampaikan rasa terpukul atas kasus yang menimpa anaknya. Ia juga menyayangkan isu-isu negatif yang beredar di media sosial, termasuk tuduhan bahwa Misri berselingkuh atau tega membunuh Brigadir Nurhadi. Menurutnya, hal itu tidak benar. Ia menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara Brigadir Nurhadi dan Misri, apalagi Misri baru sekali bertemu dengan korban.

Dari hasil autopsi, terdapat patah tulang lidah, leher patah, dan memar di tubuh Brigadir Nurhadi. Hal ini membuat ibu Misri semakin yakin bahwa anaknya tidak mungkin melakukan tindakan tersebut. Ia juga menyayangkan fokus media yang hanya menyoroti Misri dan Kompol Yogi, sementara Ipda Haris, yang juga tersangka, tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Harapan Keluarga

Ibu Misri berharap kasus ini diusut secara transparan dan adil. Ia memohon kepada penegak hukum agar tidak menyalahkan anaknya secara berlebihan. Ia juga berharap semua tersangka mendapatkan perhatian yang sama dari media, bukan hanya Misri saja. Selain itu, ia berharap ada dukungan dari Provinsi Jambi, mengingat prestasi Misri selama di Jambi.

Meskipun ingin pergi ke Lombok untuk menjenguk anaknya, ibu Misri harus mengurungkan keinginan tersebut karena keterbatasan biaya. Namun, ia tetap bersyukur bahwa Misri didampingi oleh pengacara dalam menghadapi kasus ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Tembak Polisi di Makassar, Begal Aldy Monyet Diduga Korban Minta Restoratif Justice

INTER MILAN: Tiga Kandidat Pengganti Hakan Calhanoglu

Perbedaan Dot Bulat dan Gepeng serta Kelebihan Kekurangannya