Nasib Saham Gudang Garam, Setahun Lalu Rp 18.550, Kini Hanya Rp 9.100

Industri rokok tengah menghadapi masa-masa sulit. PT Gudang Garam Tbk. menghadapi persaingan sengit antar-perusahaan rokok, ditambah beban cukai yang terus mengalami kenaikan, membuat perusahaan ini tertekan.

Bahkan baru-baru ini, Gudang Garam mengumumkan bahwa mereka sudah tidak lagi membeli komoditas tembakau dari ribuan petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Temanggung telah lama menjadi sentra tembakau terbesar di Indonesia dan banyak menyuplai perusahaan-perusahaan rokok besar.

Faktor anjloknya penjualan rokok menjadi alasan utama perusahaan dengan kode emiten GGRM ini membatasi pengadaan tembakau dari sejumlah daerah, termasuk Temanggung.

Saham Gudang Garam

Kinerja keuangan Gudang Garam yang terus-menerus mengalami penurunan juga tampak dari kinerja harga sahamnya. Dari tahun ke tahun, harga saham GGRM terus merosot.

Mengutip data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) , tepat satu tahun yang lalu, harga saham Gudang Garam pada 27 Juni 2024 tercatat sebesar Rp 18.550 per lembar.

Saat ini, tepat setahun kemudian, harga saham pada perdagangan terakhir, yaitu pada 20 Juni 2025, berada di level Rp 9.100 per lembar. Artinya, penurunan harga sahamnya mencapai dua kali lipat lebih.

Harga saham Gudang Garam ini memang terus mengalami penurunan tajam, misalnya pada pengujung tahun 2024, saham GGRM dijual di level Rp 13.275 per lembar pada perdagangan 30 Desember 2024.

Pada tanggal 8 April 2025, harga saham Gudang Garam pernah mencapai harga terendahnya sepanjang tahun 2025, yaitu sebesar Rp 8.675.

Kinerja saham Gudang Garam beberapa tahun terakhir ini seolah berbanding sangat terbalik dengan harga sahamnya ketika industri rokok sedang mengalami kemajuan.

Sebagai contoh, pada awal tahun 2019, harga saham GGRM dijual di pasar modal di kisaran harga sekitar Rp 90.000-an per lembar, menjadikannya salah satu harga saham termahal yang diperdagangkan di BEI.

Kinerja keuangan Gudang Garam anjlok

Sementara itu, mengutip KONTAN, Gudang Garam memang melaporkan kinerja negatif sepanjang periode tahun 2024.

Dari laman keterbukaan informasi, GGRM mencatatkan laba bersih sebesar Rp 980,8 miliar di tahun 2024. Perolehan itu anjlok 81,57 persen dari posisi tahun 2023 sebesar Rp 5,32 triliun.

Sementara itu, pendapatan GGRM tercatat Rp 98,65 triliun di tahun 2024, turun 17,06 persen dari periode tahun 2023 senilai Rp 118,95 triliun.

Biaya pokok pendapatan mencapai Rp 89,27 triliun, turun dari Rp 104,35 triliun. Dengan begitu, total pendapatan bersih yang dikurangi biaya pokok pendapatan menghasilkan laba bruto sebesar Rp 9,37 triliun, turun dari Rp 14,59 triliun.

Secara perinci, pendapatan GGRM berasal dari pos sigaret kretek mesin di tahun 2024 yang mencapai Rp 86,62 triliun, sigaret kretek tangan Rp 9,36 triliun, rokok klobot Rp 9,95 miliar, kertas karton Rp 876,14 miliar, konstruksi Rp 1,57 triliun, dan lainnya Rp 211,63 miliar.

GGRM melaporkan total aset sebesar Rp 84,93 triliun di tahun 2024, turun dari Rp 92,45 triliun pada tahun sebelumnya.

Total liabilities perusahaan mencapai Rp 23,02 triliun, turun dari Rp 31,58 triliun. Sementara total ekuitas perusahaan mencapai Rp 61,91 triliun, naik tipis dari Rp 60,86 triliun.

Saldo kas dan setara kas akhir tahun 2024 tercatat Rp 3,33 triliun, mengalami penurunan dari periode tahun sebelumnya sebesar Rp 3,61 triliun.

(Penulis: Rashif Usman | Editor: Dikky Setiawan)

Artikel ini juga bersumber dari pemberitaan di KONTAN berjudul "Tahun 2024, Laba Gudang Garam (GGRM) Anjlok 81,58 Persen"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polisi Tembak Polisi di Makassar, Begal Aldy Monyet Diduga Korban Minta Restoratif Justice

INTER MILAN: Tiga Kandidat Pengganti Hakan Calhanoglu

Perbedaan Dot Bulat dan Gepeng serta Kelebihan Kekurangannya